ISLAM ITU SELAMAT DAN MENYELAMATKAN

Bismillahirrahmanirrahim

Terima kasih Tuhan karena Engkau selalu memberi rahmat dan nikmat kepada kami. Di antara rahmat dan nikmat itu ialah ilmu. Terutama ilmu berhubungan dengan Engkau. Ilmu yang dapat mengingatkan kami kepada Engkau. Menyelamatkan kami dari neraka. Moga-moga rahmat dan nikmat ini terus Engkau anugerahkan kepada kami.

Selawat dan salam kepada Nabi Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW. Seorang manusia yang paling dicintai Tuhan. Karenanya dunia akhirat diciptakan. Dan karenanya kita mendapat rahmat dan nikmat. Oleh karena itu marilah kita banyak-banyakkan syukur kepada Tuhan agar ditambah lagi nikmat-Nya dan marilah kita memperbanyakkan selawat kepada Rasulullah SAW, moga-moga kita mendapat syafa’at darinya.

Dalam Al Quran, ada satu ayat yang bermaksud:

“Hendaklah kamu masuk ke dalam Islam (keselamatan) secara menyeluruh (global).”

Di dalam ayat ini, Tuhan memerintahkan manusia secara umum dan menyeluruh, bukan individu atau perseorangan, yaitu perintah masuk ke dalam keselamatan. Masuk ke dalam keselamatan itu bukan separuh-separuh atau bukan sebagian aspek, tetapi secara keseluruhan yaitu secara global. Dalam ayat ini Allah mengajar kita bahwa hidup itu mestilah bukan secara individu tetapi ada hubungan dengan orang lain. Dalam memikirkan diri kita, pikirkan juga orang lain. Kita ada hubungan dengan orang lain, orang lain juga ada hubungan dengan kita. Jadi manusia tidak boleh memikirkan dirinya saja.

Tuhan mengajak kita masuk dalam keselamatan secara umum dan secara global. Bukan secara individu. Jadi kalau kita ingin selamat, kita harap orang lain juga selamat. Agar orang lain juga berada dalam keselamatan. Kalau kita ingin masuk dalam keselamatan secara global, kita harap orang lain pun demikian juga.

Oleh karena begitu rupanya perintah Tuhan kepada manusia, kita saling jaga-menjaga, kita menjaga orang dan orang menjaga kita. Dalam kita memikirkan diri kita, kita fikirkan juga diri orang. Dalam waktu orang lain memikirkan dirinya, dia juga memikirkan kita. Sebab itu Tuhan beri nama agama-Nya, Islam. Sesuai dengan ayat tadi. Sebagai perkataan “Aslama-Yuslimu-Islaaman”, artinya bukan ‘selamat’ tetapi ‘menyelamatkan’.

Abuya ulang lagi, Islam itu artinya bukan ‘selamat’. ‘Selamat’ artinya ‘Salmun’. Islam maksudnya menyelamatkan. Sesuai dengan perkataan dalam ayat tadi, yaitu secara jemaah, bukan perorangan. Kita pikirkan orang dan orang pikirkan kita. Sebab itu Tuhan beri nama agama-Nya dengan perkataan ‘Islam’ bukan “Salmun’. Kita bahas perkataannya dulu.

Banyak orang menterjemahkan maksud ‘Islam’ itu ‘selamat’. Abuya pun heran, mengapa tidak berhati-hati? Agama Islam itu maknanya ialah ‘menyelamatkan’. Dari perkataan ‘Aslaama-yuslimu-Islaman’.

Apa artinya menyelamatkan? Artinya menyelamatkan diri dan menyelamatkan orang lain. Orang lain menyelamatkan dirinya dan menyelamatkan diri kita juga. Sebab itu perkataan ‘Islamun’ dipilih oleh Tuhan. Tidak dipilih perkataan “Silmun”. Jadi kita menyelamatkan diri kita dan juga menyelamatkan diri orang lain. Inilah dasar dan prinsip Islam.

Apa maksud selamat dan menyelamatkan? Diri kita selamat dan orang lain pun selamat. Kita menyelamatkan diri kita dan menyelamatkan diri orang lain. Artinya menyelamatkan diri kita dan diri orang lain dari segala sesuatu yang negatif. Baik besar maupun kecil. Baik yang berbentuk Akhirat, maupun yang berbentuk dunia. Baik yang bersifat lahir maupun yang bersifat batin. Inilah dasar agama Tuhan. Ini prinsip agama Tuhan yang mesti dipahami, yang mesti diperjuangkan dan yang mesti dihayati. Yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Kalau begitu mari kita lihat, bagaimana hendak menerapkan agama yang selamat dan menyelamatkan itu dalam kehidupan harian. Kita selamat dan menyelamatkan orang lain.

Dalam kehidupan harian, Tuhan kata, ‘kaaffah’. Bila katakan kaaffah, salah sekalilah apa yang kita dengar dan kita lihat selama ini. Kalau orang menganggap Islam itu mementingkan ibadah maka mereka nampak Islam itu di surau, masjid, waktu berpuasa, waktu shalat, waktu haji dan waktu wirid. Yang lain tidak dianggap. Mereka ini hanya melihat yang Islam itu ibadah saja. Yang lain-lain seperti makan, minum, tidur, berbaring, beristirahat dan berkeluarga tidak dianggap Islam. Mereka tidak terpikir bahwa mencari ilmu, berziarah, berkumpul dan berhibur itu juga Islam. ‘Kan berlawanan dengan prinsip tadi, yakni ““Hendaklah kamu masuk ke dalam Islam (keselamatan) secara menyeluruh (global).” Itu satu golongan.

Satu golongan lagi mengambil berat Islam itu dari segi politik dan segi negara. Mereka selalu membaca ayat ini. Mereka berkata, “Lihat Tuhan berkata, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh.” Mereka melihat negara, politik dan pentadbiran itulah agama. Ibadah itu kecil. Sebab itu karena politik mereka tertinggal shalat. Kalau shalat pun, Subuhnya pukul 07.00. Artinya mereka lebih mementingkan politik daripada shalat. Itu kalau dia hendak shalat. Oleh karena dia anggap politik itu besar dan shalat itu kecil, maka shalat juga tetapi shalat Subuh pukul 7 pagi. Ini juga ‘kan melanggar prinsip dari ayat tadi. Mana boleh itu dianggap global. Itu hanya satu sudut yaitu sudut politik, negara dan pemerintahan. Sedangkan Islam itu menyeluruh. Walaupun sebesar debu.

Kalau orang memiliki ilmunya, dapat menghayati dan menerapkan dalam kehidupan, barulah dia benar-benar hamba Tuhan. Bila kata hamba Tuhan, artinya dia terhubung dengan Tuhan 24 jam. Kalau begitu mari kita lihat bagaimana hendak melaksanakan Islam yang bersifat kaaffah tadi di dalam setiap aspek kehidupan kita. Dengan tidak memikirkan atau mempersoalkan apakah itu fardhu ‘ain, sunat, fardhu kifayah dan lain-lain. Yang penting dia termasuk dalam kawasan silmi, yaitu kawasan keselamatan, yang selamat dan menyelamatkan.

Tentang ibadah tidak usah kita persoalkan. Itu orang sudah tahu. Begitu juga orang yang mementingkan politik dan negara pun tidak usah kita bahas. Orang sudah paham. Itu sudah satu aspek. Saya hendak sebut benda yang jarang orang sebut yaitu, tindakan kita setiap hari. Sebatas yang saya ingat.

Setelah kita urai nanti, barulah kita tahu kita berada dalam “silmi kaaffah” atau tidak. Kita masuk dalam keselamatan global atau tidak. Katalah dari bangun tidur, bagaimana kita hendak masuk kepada Islam itu, kepada silmi itu. Sebab kalau tidak berada dalam silmi, maka syaitanlah yang akan mempengaruhi kita. Ia akan berlaku salah satu. Kalau Tuhan tidak pengaruhi kita, syaitanlah yang akan pengaruhi kita. Tidak ada vakum.

Jadi, apabila kita bangun dari tidur, kita bersyukur pada Tuhan. Kalau tidak paham hendak baca ayatnya, sekurang-kurangnya hati kita berkata, ‘Terima kasih Tuhan karena hidupkan saya.” Kita pun niat, “Ya Allah, berawal dari saya bangun ini, sampai saya tidur kembali, saya hendak buat baik. Tolong bantu saya.” Niat sudah ada. Artinya sudah mula masuk pada silmi. Kalau kita tidak buat begitu, artinya sudah tidak selamat. Syaitan akan mempengaruhi hatinya sebab tidak bermula dengan ingat Tuhan. Bila tidak ingat Tuhan, artinya syaitan mempengaruhinya waktu itu.

Kemudian kita pun ke kamar mandi, dengan niat semua perbuatan adalah untuk Tuhan. Itu kita sudah maklum. Tidak usah bercerita banyak. Kita terus pergi ke kamar mandi dengan tujuan hendak bersihkan diri, hendak basuh diri, hendak mandi dan hendak ambil wudhu. Tujuannya untuk Tuhan. Itu kita sudah maklum. Syaitan sudah tidak mencelah di situ. Kita sudah berada dalam silmi itu tadi. Selepas itu kita shalat. Itu tidak perlu dibahas. Mudah orang paham.

Selepas itu, tentulah manusia ini hendak bertebaran di atas muka bumi. Tentu hendak keluar rumah. Mengapa saya pilih perkataan bertebaran. Sebab tidak semua orang bekerja. Ada orang hendak belajar, ada orang hendak mengembara, ada orang hendak bersilaturrahim dan ada orang hendak menunaikan hajat-hajat lain. Tidak mesti bekerja saja. Janganlah nampak bekerja saja. Jadi selepas shalat, masing-masing akan membuat keperluan masing-masing. Bila hendak keluar rumah tentu kita akan berkata, “Bismillahi tawakkaltu alallah…”. Jadi kita sambung memasuki kawasan keselamatan secara global tadi. Kalau kita tidak baca doa itu, kalau kita tidak terpikir atau terlupa untuk membacanya, di sudut itu sudah tidak selamat. Syaitan sudah menguasai hatinya. Bila melangkah, kita mulai melangkah dengan kaki kanan. Sebab berkanan-kanan ini Tuhan suka. Selamatlah. Selamat dari kemurkaan Tuhan. Islam itu agama selamat. Kalau kita langkah dengan kaki kiri, kita sudah berbuat sesuatu yang negatif, sebab orang kafir suka mulai dengan tangan kiri. Baik untuk makan ataupun lain-lain. Tuhan benci. Apabila Tuhan benci, ia sudah masuk ke negatif. Sudah tidak selamat sebab Tuhan sudah murka. Sebab ikut budaya orang kafir. Sudah tidak selamat.

Setelah itu kita naik mobil dan membaca doa naik kendaraan. Itu paling tidak. Saya sudah katakan tadi, Islam itu bukan kita saja selamat bahkan ia selamat dan menyelamatkan. Yang lebih baik waktu itu, kita ingat tentang berapa banyak orang yang campur tangan untuk menghasilkan mobil itu. Dari bahan mentah, siap menjadi mobil hingga sampai ke tangan kita, berapa ribu manusia yang terlibat. Doakan dalam hati, “Ya Allah berilah mereka petunjuk. Ampunkan dosa mereka dan murahkan rezeki mereka.” Kalau bisa, hadiahkan Al-Fatihah untuk mereka dan niatkan dalam hati, kita hadiahkan Al-Fatihah untuk yang Islam. Bagi buruh-buruh yang tidak Islam tidak termasuk (dalam Al-Fatihah), tetapi dia sudah termasuk dalam doa tadi yakni agar diberi petunjuk. Moga-moga dengan itu, kita selamat dan menyelamatkan orang lain. Islam itu agama selamat menyelamatkan. Tidak cantikkah? Itu lebih ikhlas. Orang yang kita doakan pun tidak tahu. Itu paling ikhlas. Pahalanya selamat. Kalau kita berdoa untuk orang banyak di depan kita, susah hendak menjaga hati kita. Sebab hati akan berkata, “Supaya orang anggap aku baik, aku akan doakan.” Habis. Susah rupanya hendak ikhlas. Bila begitu, artinya bukan Tuhan yang dapat hati kita tetapi syaitan yang dapat.

Jadi kalau kita mendoakan orang tetapi tidak ada siapapun yang tahu seperti mendoakan orang yang membuat mobil tadi, yang mereka itu tinggal di tempat yang berbeda-beda, inilah yang selamat dan menyelamatkan. Inilah yang orang tidak buat. Hal yang mudah dapat pahala orang tidak laksanakan. Hal yang susah dapat pahala itulah yang orang hendak laksanakan. Sebab ajaran Islam itu telah salah digambarkan pada kita. Benda-benda yang tersirat seperti ini tidak pernah digambarkan atau dipikirkan orang. Padahal Islam itu selamat menyelamatkan. Sekarang kita sudah selamatkan orang yakni orang yang ada hubungan dengan mobil kita. Dari yang menyiapkan bahan mentah, yang proses, yang buat, yang tukang jual, sampai ke tangan kita, berapa ribu orang yang terlibat. Kalau doa kita makbul, berapa ribu orang yang akan selamat. Islam itu agama yang selamat menyelamatkan.

Seterusnya, mobil pun meluncur. Waktu baru naik mobil, akan menyalakan mesin, ada bacaan doanya. Waktu mobil berjalan juga ada bacaannya. Mengapa kita baca doa-doa itu? Moga-moga Tuhan selamatkan kita. Sebab ajaran Islam itu selamat menyelamatkan. Setidak-tidaknya kita dahulu yang selamat. Bila tiba di persimpangan jalan, walaupun itu jalan kita, jika ada mobil hendak lewat, kita beri jalan. Menyelamatkan. Itulah yang dimaksudkan Islam itu selamat menyelamatkan. Beri peluang orang lain jalan dahulu. Kalau kita berkata, “Mana boleh? Ini jalanku.” Menurut undang-undang jalan raya, memang tidak salah kalau kita tidak mau beri jalan. Tetapi mengikut undang-undang Tuhan, tidak baik. Kalau mengikut undang-undang negara memang kita yang patut jalan dahulu. Kalau mengikut undang-undang Tuhan, kita beri orang lain jalan dahulu. Menyelamatkan orang. Boleh jadi dia memang ada keperluan hendak cepat. Kita beri peluang kepada orang dahulu, senangkan hati orang. Bila kita senangkan hati orang, kita sudah dapat pahala pula. Jadi kesenangan orang itu secara tidak langsung menyenangkan kita pula.

Begitu pula kalau kita jalan jauh. Bila menuruni jalan yang tinggi atau bukit, ada pula ayatnya. Selagi menurun, kita baca, “Subhanallah….Maha Suci Allah, Maha Suci Allah.” Jangan sampai jiwa kita itu kosong. Supaya senantiasa terhubung dengan Allah. Kalau jauh mobil kita menurun, makin lamalah kita baca, ”Subhanallah…….” Apabila tiba-tiba kereta mendaki kawasan atau jalan yang tinggi, baca, “Allahu Akbar…” pula. Jangan kosong kata Tuhan. Tuhan siapkan bagaimana agar kita senantiasa terhubung dengan-Nya. Supaya hati kita tidak ksong (vakum).

Tiba-tiba kita melihat orang kecelakaan. “Segala puji bagi Tuhan yang telah menyelamatkan aku dari apa yang telah dibalakan kepada orang itu.” Terhubung lagi hati dengan Tuhan. Tidak boleh kosong. Jika kosong, syaitan masuk. Bila syaitan masuk, sudah tidak selamat. Padahal Islam itu cantik. Bukan saja kita selamat, orang lain pun selamat.

Bila kita jalan lagi, kita haus maka kita pun singgah di restoran. Berapa banyak perhubungan kita dengan Tuhan di situ. Kita baca ‘bismillah’, dan mulai dengan tangan kanan maka kita terhubung secara tidak langsung dengan Tuhan. Bila hendak bayar, kita bayarkan orang yang makan di kiri kanan kita. Selamatkan orang lain. Bukan saja kita selamat dari lapar bahkan kita juga telah selamatkan orang lain. Islam itu selamat menyelamatkan. Tidak indahkah ajaran Islam? Senantiasa terhubung dengan manusia, baik secara langsung atau tidak secara langsung. Bila terhubung dengan Tuhan, secara otomatis terhubung dengan manusia. Cantik ajaran Islam.

Itulah yang dimaksud Islam itu selamat menyelamatkan. Yakni ia merupakan amalan harian. Sedangkan ada orang menganggap masuk pada keselamatan secara keseluruhan atau global itu hanya di sudut ibadah saja atau shalat saja. Yang minat politik nampak itu di sudut negara atau perjuangan. Ibadah pun sudah jadi kecil baginya. Apalagi yang saya ceritakan ini makin dia tidak nampak. Mana orang pernah kuliahkan. Seolah-olah ini bukan agama. Agama itu ialah jadwal harian. Walaupun satu detik, tidak lepas dengan Tuhan dan tidak lepas dengan manusia. Tidak vakum. Tidak ada kekosongan.

Jadi itulah perintah Tuhan tadi, “Hendaklah kamu masuk Islam (keselamatan) itu secara menyeluruh (global).” Dan sebab itu Tuhan beri nama agamanya Islam, sesuai dengan arahan dalam ayat tadi. Islam bukan artinya selamat. Islam artinya selamat dan menyelamatkan. Menyelamatkan diri dan menyelamatkan orang lain. Kalau ini dapat dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan harian, maka dengan Tuhan terhubung dan dengan manusia terhibur. Kita selamat dan orang lain pun selamat. Kalau begitu, mana ada ruang untuk bertengkar atau krisis? Tidak ada. Tetapi oleh karena kita tidak paham Islam secara benar dan kita hanya paham seperti yang kita paham selama ini, Islam yang kita bawa tidak selamat dan menyelamatkan. Kadang-kadang di mana kita bawa Islam, di situ dapat terjadi pertengkaran. Ini sudah tidak betul. Menyalahi ayat tadi.

Itu sebagian kecil saya gambarkan bagaimana Islam itu adalah kehidupan harian. Dalam sudut-sudut lain, kita sudah tahu. Kalau belum tahu, sebaiknya kita belajar lagi karena ia sangat banyak dan menyeluruh. Yaitu tindakan dalam kehidupan kita. Jadi cantik sekali ajaran yang selamat menyelamatkan ini.

Begitulah seterusnya, apabila kita balik ke rumah untuk beristirahat, ada disiplin-disiplin tertentu dan ada bacaan-bacaan tertentu. Kalau tidak paham bacaan, pasanglah niat-niat baik kita dengan Tuhan, supaya senantiasa terhubung dengan Tuhan. Itu paling tidak, boleh jadi menyelamatkan orang lain. Saya rasa cukup sebatas itu. Memang tajuk seperti ini kurang diminati karena bab ini susah untuk diamalkan setiap hari. Cukup dahulu sebatas itu. Setidak-tidaknya kita sudah paham prinsip Islam yakni selamat dan menyelamatkan. Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: