Melebihkan Kepentingan diri sebab terjadinya perpecahan

Adil itu ialah satu sifat yang paling dekat kepada taqwa. Kupasan dan maksud adil sangat luas. Adil pada pandangan Islam jauh berbeda dari apa yang difaham oleh orang yang bukan Islam atau orang Islam sendiri yang tidak terdidik secara Islam. Adil bukan

berarti sama. Adil bukan juga berarti sama rata. Adil ialah menaruh hak pada yang hak, walaupun pada lahirnya, terlihat tidak seimbang. Akan berlaku adil bukan hal yang mudah. Contohnya, kalau kita benci dan tidak suka pada seseorang itu, apa saja yang dia buat, kita merasa tidak betul dan tidak tepat. Tapi kalau kita suka dan sayang pada seseorang itu, segala apa yang dia buat semuanya betul belaka.

Kalau orang yang kita benci buat salah yang kecil, terasa sangat besar salahnya kepada kita. Tetapi kalau orang yang kita suka buat salah besar pun, kita anggap kecil saja.

Kalau orang yang kita suka membuat sesuatu kebaikan atau berhasil membuat sesuatu urusan, maka kita sanjung dan kita puji dia. Tetapi kalau orang yang kita benci membuat sesuatu kebaikan atau berjaya dalam sesuatu urusan, kita anggap biasa saja. Kita kata, memang sudah kerja dia. Sumber berlakunya perkara ini ialah karena kepentingan diri.

Kepentingan diri kita itu yang kita lebihkan. Menyukai dan menyayangi seseorang itu dan kemudian menyebelahinya dan melebihkannya dalam segala hal, itu termasuk dalam maksud kepentingan diri. Kepentingan diri, tidak semestinya dibuat kepada diri sendiri saja. Kepentingan diri termasuk juga yang berhubungan dengan orang-orang yang ada sangkut pautnya dengan kita atau orang yang kita sayang, baik isteri, keluarga, anak-anak, anggota kelompok kita, “clique” kita, anak buah kita dan lain-lain lagi.

Kepentingan diri inilah yang menjadi sumber terjadinya huru-hara di kalangan manusia. Setiap orang melebihkan pihaknya. Setiap kali pihaknya dilebihkan, maka akan terjadi

kekurangan di pihak yang lain. Pihak yang lain itu akan merasa dikurangi, dizalimi, ditindas, ditekan dan dianiaya. Mereka pun membalas. Maka berlakulah krisis dan perkelahian yang membawa kepada perpecahan dan permusuhan.

Melebihkan kepentingan diri ini pula ada dua bentuk. Ada yang dilebihkan dengan niat. Ada pula yang dilebihkan secara spontan. Secara yang dilebihkan dengan niat yaitu yang dirancang, yang disusun dan yang diatur, sudah pasti jahat. Ini didorong oleh nafsu jahat dan sifat-sifat mazmumah dan keji yang bersarang dihati. Ini sangat banyak berlaku. Ini berlaku dalam negara. Dalam politik. Dalam pejabat. Dalam sekolah. Malahan dalam sebuah rumahtangga pun berlaku. Maka tidak heran terjadi krisis dan pergaduhan di tempat-tempat tersebut karena timbul rasa tidak puas hati, buruk sangka, rasa dizalimi, dianiayai dan sebagainya. Akan tetapi, kadang-kadang kita tidak mau jahat. Kita tidak mau melebihkan kepentingan diri kita dan kita tidak mau berat sebelah dalam membuat pertimbangan tetapi terjadi juga. Ini karena melebihkan kepentingan diri ini bisa berlaku secara spontan atau secara tidak sadar. Itu banyak membuat kita salah dalam membuat pertimbangan. Kita tidak merasa berbuat dan tidak sengaja. Justru itu, kita tidak dapat mengawal perasaan dan tindak-tanduk kita.

Perkara ini selalu terjadi dalam kehidupan kita seharian. Kadang-kadang, kanak-kanak dalam satu kampung bermain dan kemudian berkelahi. Ini biasa bagi kanak-kanak. Tetapi apabila kanak-kanak itu sedang berkelahi, melempar batu atau bergulingan di atas tanah, spontan si ibu jadi cemas dan tidak sabar. Datanglah si ibu untuk menyelamatkan anaknya dan memarahi atau memukul anak yang seorang lagi.

Ibu anak yang dipukul itu spontan jadi marah. Maka dia pun turun untuk membela anaknya. Maka berkonfrantasilah kedua ibu itu. Kadang-kadang terus bergaduh dan tarik-menarik rambut. Paling tidak saling bermasam muka dan bertukar-tukar kata-kata kesal dan menyindir. Belum pun kedua ibu itu selesai bergaduh, kedua-dua anak tadi baikan kembali dan bermain bersama seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi.

Begitu juga dalam keluarga yang memanjakan anak bungsu. Apa sahaja yang dibuat oleh anak bungsu itu semuanya OK. Ayah tidak pernah marah. Ibu pun tidak pernah marah. Kalau anak bungsu itu bergaduh dengan kakak-kakak atau abang-abangnya, kakak dan abangnyalah yang kena marah. Walaupun nyatanya anak bUngsu itulah yang nakal dan yang memulainya.

Begitu juga kalau berlaku pergaduhan antara orang kampung kita dengan orang kampung lain, antara murid sekolah kita dengan murid sekolah lain atau antara orang

bangsa kita dengan orang bangsa lain. Cepat sekali kita hendak membela orang kita seolah-olah orang kita mustahil berbuat salah. Kita jadi prejudis dan buruk sangka dengan pihak lain. Kemampuan kita untuk menimbang dengan seksama dan adil terganggu disebabkan kesalahan kita yang mementingkan diri.

Dalam semua kejadian di atas, tidak pernah dipersoalkan siapa benar dan siapa salah. Hanya siapa yang lebih disayangi. Orang yang kita sayang itulah yang benar. Yang kita kurang sayang itu secara otomatis dianggap salah. Ini bukan keadilan. Ini pertimbangan yang berat sebelah. Begitulah sukarnya untuk membuat pertimbangan dan berlaku adil kalau kita terlalu melebihkan kepentingan diri, lebih-lebih lagi kepentingan diri yang berlaku secara spontan yang di luar kawalan kita dan yang kita tidak sadar. Hanya

hati yang sentiasa bersama Tuhan, yang sentiasa merasakan kehadiran Tuhan dan yang penuh dengan rasa bertuhan dan rasa kehambaan saja yang dapat mengawal kepentingan diri secara spontan ini dari menguasainya.

Untuk mengawal kepentingan diri secara spontan ini bukan mudah dapat dicapai, tetapi ia tetap perlu untuk memupuk keluarga atau masyarakat yang adil dan harmoni. Itu sebab untuk menjadi adil, untuk mencetus kasih sayang sesama manusia, untuk menjadi orang yang bertimbang rasa, kita memerlukan Tuhan. Hanya apabila Tuhan diimani, dicintai dan ditakuti, barulah mudah bibit-bibit ini dapat disemai di dalam hati kita.

One Response to Melebihkan Kepentingan diri sebab terjadinya perpecahan

  1. […] perasaanya untuk keluarganya, temannya bahkan untuk orang lain. link tentang menahan perasaan.. melebihkan kepentingan diri sebab terjadinya perpecahan  menahan perasaan mengorbankan perasaan adalah satu […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: