Siapakah Yang Layak Mendapat Bantuan Dari Tuhan?

Apabila manusia sudah tidak bernyawa maka ia dipanggil mayat. Yaitu jasad yang sudah kehilangan fungsi. Malah dalam waktu yang sangat singkat jasad itu akan mengalami pembusukan dan akhirnya hancur. Demikian juga umat Islam yang terpisah dari soal kerohanian dan alam ghaib, sama seperti jasad yang tiada roh. Umat Islam tanpa alam kerohanian ini, hanya tinggal salut luar saja tetapi isinya sudah tiada. Kalaupun masih berisi, kadang-kadang isinya pula sudah bertukar dengan berbagai isme atau ideologi yang semuanya berasal dari ajaran thoghut. Jumlah umat Islam yang ramai itu ibarat harimau kertas. Sekalipun kelihatan bertaring panjang, namun kosong dan hanya menggelembung dengan kapas dan kain perca .

Roh dari ajaran Islam itu berkait rapat dengan keimanan, ketaqwaan, alam kerohanian, alam ghaib, barokah dan karomah. Semua ini dapat diibaratkan seperti mesin mobil. Tanpa mesin, sesebuah mobil hanya tinggal rangka yang sudah tidak berfungsi. Andaikan ‘body’ mobil itu berkilau, joknya empuk, dilengkapi dengan aksesoris canggih, mobil tersebut tidak akan ke mana-mana. Lebih bagus kereta lembu yang berfungsi daripada mobil tak bermesin.

Begitulah nasib malang yang menimpa umat Islam. Bantuan ghaib, barokah dan karomah sudah tersisih dan dianggap begitu asing dari kehidupan dan perjuangan. Wali dan karomah dianggap dongeng lebih-lebih lagi dianggap sesat. Persoalan kerohanian dikikis seperti kudis atau bisul pada tubuh yang perlu dibuang dan dijauhi. Umat Islam sendiri sudah bertindak me’momok’kan dan memburukkan gambaran mengenai wali dan karomah. Umat Islam takut kepada kewalian dan karomah seperti menghindari penyakit menular. Sesuatu yang berlaku secara khawariqul’ adah tidak dapat diterima dengan alasan tidak logik. Sedangkan sifat khawariqul ‘adah itu berlaku di luar logik dan tidak rasional. Mukjizat para Rasul semuanya berlaku tanpa logika. Demikian juga kedudukannya dengan karomah. Memang hal itu di luar logika dan pencapaian akal manusia. Di situlah Allah SWT memperlihatkan kekuasaanNya yang mutlak agar manusia takut, gentar dan merasakan betapa kerdilnya seluruh makhlukNya yang segala-galanya tertakluk kepada kuasa Allah SWT dan berada di dalam genggaman-Nya.

Spanyol pernah berada di bawah Islam. Islam di Spanyol hancur dibasmi habis-habisan hingga seolah-olah tidak pernah tegak kerajaan Islam. Kemusnahan dan kehinaan ini bukan bersumber dari lemahnya pentadbiran, tentera, kemajuan, ilmu pengetahuan, ekonomi dan teknologi. Tetapi disebabkan lemah keimanan, rendah ketaqwaan, runtuh akhlak, roboh perpaduan, lenyapnya kasih sayang.

Pautan hati dengan Allah sudah terlalu lemah. Ikatan syariat Islam sudah terlalu longgar. Kemungkaran dan kezaliman sangat leluasa. Mazmumah dalam diri sangat subur. Masing-masing memburu kepentingan duniawi yang melampau. Jiwa menjadi kerdil karena lemahnya cita-cita akhirat. Akal menjadi tumpul karena penumpuan kepada aspek kepentingan diri dan keluarga. Semangat perjuangan terus luntur karena terbius dengan kelezatan duniawi dan kerakusan nafsu.

Situasi demikian itu menjadikan mereka terpisah dari persoalan kerohanian. Mereka terhijab dari bantuan Allah SWT. Mereka tersisih dan terputus hubungan dari pemerintahan ghaib. Mereka bergantung hanya kepada kekuatan lahiriah. Akibatnya, Allah SWT berlepas tangan. Allah SWT tidak pandang dengan pandangan rahmat. Lebih dahsyat dari itu ialah Allah SWT murka dan timpakan dengan berbagai kehinaan.

Begitu juga apa yang pernah berlaku di Baghdad yang ketika itu dikenali sebagai Kota Ilmu. Di saat itu Baghdad berada di puncak kegemilangan ilmu pengetahuan. Umat Islam terlalu asyik dengan ilmu dan menimbun harta-benda. Keasyikan itu menyebabkan mereka lalai dari membesar dan mengagungkan Allah SWT. Mereka semakin jauh dari Allah SWT.

Persoalan kerohanian terus terpinggir. Akhirnya hancur lumat Kota Baghdad. Timbunan kitab dijadikan unggun api dan sebagiannya dijadikan landasan untuk kuda menyeberangi sungai. Umat yang asyik tenggelam dalam kekaguman kitab-kitab serta ilmu pengetahuan itu rupanya berjiwa kerdil dan penakut. Mereka sedikit pun tidak mampu melawan satu bangsa yang tidak pernah mengenal tamaddun iaitu Monggol.

Hikmah di sebalik keruntuhan Baghdad itu Allah memperlihatkan betapa golongan yang sedikit terbukti menang dengan bantuan Allah SWT. Kerajaan langit atau pemerintahan ghaib berperanan bagi memenangkan golongan yang sedikit tetapi benar-benar beriman dan bertaqwa. Ia juga memperlihatkan bahawa di dalam situasi bagaimanapun umat Islam tetap menang dan berjaya asalkan memiliki syarat-syarat bagi Allah SWT untuk mendatangkan pertolongan-Nya.

Firman Allah SWT bermaksud: “Golongan sedikit mengalahkan golongan yang ramai dengan izin Allah.” (Al-Baqarah: 249)
Allah SWT memperlihatkan kekuasaan-Nya mengatasi tiap-tiap sesuatu dan apabila Allah SWT sudi membela ‘orang-orang-Nya’ maka di tengah-tengah keruntuhan kehancuran Baghdad itu bangkit satu kelompok yang sangat kecil bilangannya tetapi berkualitas.

Kelompok kecil ini bangun dengan kekuatan iman dan taqwa diiringi dan dinaungi oleh pertolongan Allah SWT. Mereka bukan saja tidak terpengaruh sedikit pun oleh keganasan Monggol bahkan Allah SWT lindungi mereka. Dan mereka juga tidak disentuh oleh kemusnahan Baghdad dengan bantuan Allah SWT, mereka dibantu oleh Allah SWT hingga dapat menguasai kembali bangsa Monggol.

Bukan dengan kekuatan senjata atau ketenteraan tetapi mereka menewaskan Monggol melalui keperibadian yang mulia, akhlak yang luhur dan mempesona, dakwah dan didikan yang berkesan. Hasilnya, terjadi dalam sejarah, satu-satunya bangsa penjajah yang menyerah dan menuruti agama, cara hidup dan kebudayaan anak jajahan. Bukankah ini satu keanehan dan di luar kebiasaan manusia.
Kublai Khan sebaliknya menebus kembali kesilapannya dengan menjadi pejuang Islam berserta anaknya hingga Islam berkembang ke Asia Selatan.

Kini siapakah di kalangan umat Islam yang layak mendapat bantuan dan pertolongan Allah SWT? Kelompok mana atau golongan mana di kalangan umat Islam ini yang layak mendapat kerjasama dari kerajaan ghaib yang di kalangan mereka itu sering berlakunya karomah atau khawariqul ‘adah? Siapakah di kalangan umat ini yang Allah SWT ‘sudi memandangnya’?

Pertanyaan ini sepatutnya senantiasa bermain di benak kita, dan mencari jawabannya. Menjawab persoalan ini artinya umat Islam perlu membuat muhasabah, menghitung dan menilai diri. Dan bertanyalah pada diri sendiri serta jawab dengan jujur apakah kita ini layak dipanggil ‘orang Allah’? Apakah tahap keimanan kita sekurang-kurangnya iman ‘Ayan atau memiliki nafsu peringkat Mutmainnah? Kitakah yang bergelar Ashabul Yamin, Al Abrar, Al Faizuun, orang soleh yang menepati taqwa yang sebenar? Tidak keterlaluan kalau dikatakan bahwa tidak ada kedudukan di tahap yang demikian itu di kalangan umat Islam. Allah SWT tidak mungkiri janji-Nya. Andaikata umat ini layak dan cukup syarat untuk mendapat bantuan Allah SWT, Allah SWT telah berjanji di dalam Al Quran melalui firman-Nya yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah akan mewariskan bumi ini kepada hamba-Ku yang soleh.” (Al-Anbiya: 105)

Siapakah mereka itu? Mereka yang di antara ciri-cirinya ialah dalam sehari semalam berada dalam amalan soleh atau kebaikan atau kebaktian selama delapan belas jam. Enam jam selain itu mereka berbuat perkara mubah dan jarang sekali jatuh kepada dosa. Kalau berbuat dosa, itu tidak disengaja dan itu pun terlalu sedikit dan bersegera memohon keampunan.

Selain para Rasul dan para sahabat, Allah SWT telah tunaikan janji-Nya kepada mereka yang telah mempunyai ciri-ciri tersebut, di antaranya Sayidina Umar Ibnu Abdul Aziz, Salahuddin Al Ayubi dan Muhammad Al Fateh. Kerajaan ghaib bersama-sama dalam pemerintahan mereka. karena mereka itulah maka seluruh urusan umat dibantu, dipermudahkan dan diberkati. Kalimah yang tepat dari Allah SWT untuk menggambarkan keadaan mereka itu ialah “Wabihim yunsaruun.”

Karena mereka, yang lain dibantu, ditolong dan dipermudahkan. Tiada siapa yang mampu menjinakkan serigala hingga dapat bergurau-senda dengan kambing. Kalau sekedar seekor atau dua ekor mungkin ahli sirkus mampu mengasuhnya. Tetapi mustahil untuk melunakkan seluruh serigala agar bisa berdamai dengan kambing. Tetapi itulah yang berlaku di zaman Sayidina Umar Abdul Aziz. Ini terbukti apabila dengan secara mendadak serigala menerkam kambing apabila barokah dan karomah diangkat oleh Allah SWT di saat kewafatan Sayidina Umar Abdul Aziz.

Di zaman pemerintahan Sayidina Umar Ibnu Abdul Aziz, kemakmuran merata. Kehidupan sejahtera dan aman damai. Pemimpinnya adil, orang kayanya pemurah, para ulamanya zuhud dan mendidik masyarakat. Fakir miskin turut berlumba-lumba untuk memberi, bukan meminta-minta sehingga tiada siapa yang merasa layak untuk menerima zakat. Masing-masing merasa kaya yaitu kaya jiwanya dengan iman dan taqwa. Perpaduan dan kasih sayang sangat utuh dan melahirkan keindahan hidup bermasyarakat. Saling kuat membela dan membantu. Inilah yang disifatkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya: “Negara yang aman makmur dan mendapat keampunan Allah SWT.” (Saba’: 15)

Mudah untuk memakmurkan kehidupan manusia. Mudah untuk menyogokkan kemajuan dan pembangunan. Mudah untuk mencapai perkembangan ekonomi tinggi. Mudah untuk menanamkan minat terhadap teknologi secanggih manapun. Tetapi tiada jaminan untuk mendapat keampunan, keredhaan dan rahmat Allah SWT. Ini semua akan melahirkan kehidupan masyarakat yang penuh keharmonian, kasih sayang, tolong menolong, aman damai dan selamat sejahtera.

Model ketinggian tamaddun material berada di mana-mana pelosok dunia dan mudah dipindahkan ke tempat lain. Tetapi di mana dapat ditiru model kehidupan masyarakat yang memiliki tamaddun kerohanian yang tinggi.

Begitulah sebagai contoh peribadi yang sekedar percikan dari Al Imamul Muttaqin iaitu Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri berada di tahap tertinggi di kalangan manusia sebab itu peringkat Rasulullah SAW itu adalah ‘rahmatan lil alamin’ . Seluruh alam yang merangkumi alam nyata dan alam ghaib mendapat limpahan rahmat karena kehadiran Rasulullah SAW. Maka ada golongan lain yang mengiringi Baginda mengikut urutan taqwa, limpahan barokah dan karomah yang dikurniakan oleh Allah SWT sehingga dinobatkan sebagai “Wabihim yunsaruun.” .

Artinya dengan sebab mereka maka orang lain dibantu. Para salafussoleh berada di kedudukan tinggi dan dominan berbanding kaum-kaum lain karena mereka adalah orang-orang Allah SWT. Allah SWT menaungi mereka maka muka bumi ini pun selamat di tangan mereka. Ini adalah karena mereka telah benci akan kemuliaan dan keuntungan dunia. Seluruh kehidupan dunia tidak lebih dari alat untuk menuju Allah SWT dan bekalan akhirat.

Firman Allah SWT bermaksud: “Dan Allah telah berjanji kepada orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan soleh, bahawa Dia akan benar-benar menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.” (An-Nur: 55)

Rasulullah SAW bersabda: ” Barangsiapa membaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa yang dirahsiakannya, maka Allah akan memperbaiki apa yang dilahirkannya (terang-terangan)…” (Riwayat Al-Hakim)

Kebenaran (haq) datangnya dari Allah SWT. Ayat Al Quran atau dengan lain perkataan Islam ini adalah Allah SWT yang punya maka Allah SWT menjaganya. Apabila muncul golongan yang benar-benar tepat berada di jalan kebenaran itu maka Allah SWT pasti membelanya. Allah SWT bela karena di tangan golongan itu terjamin Islam itu benar-benar murni dan tulen. Di tangan golongan ini Islam itu benar-benar menepati kehendak Allah dan RasulNya. Mereka memiliki cukup syarat maka tentera Allah SWT pun berperanan. Allah SWT hantar tenteraNya untuk mengalahkan musuh. Sedikit saja di kalangan pejuang kebenaran mempersiapkan tenteranya yang kadang-kadang tidak sampai perlu berfungsi.

Lihat saja bagaimana Allah SWT membela dan memenangkan pejuang-pejuang kebenaran. Allah SWT kirim tenteraNya yang hanya dengan itu agar manusia melihat dan takut dengan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Agar manusia juga melihat betapa kebenaran itu sentiasa dibela dan dimenangkan oleh Allah SWT. Agar manusia faham bahawa kebatilan pasti musnah. Memusuhi kebenaran artinya memusuhi Allah SWT, maka Allah SWT tewaskan musuh-musuhNya yang kadang-kadang hanya dengan benda yang kecil saja, umpamanya nyamuk. Ini karena Allah SWT mahu para pejuang Islam yakin akan belaan Allah SWT.

Allah menceritakan sejarah para Nabi dan Rasul di dalam Al Quran sebagai pengajaran buat kita. Diceritakan bagaimana berlakunya kehinaan dan kebinasaan umat dahulu, lantaran derhaka dan kesombongan mereka menentang ajakan Rasul. Mereka mati dalam keadaan hina, di akhirat sekali lagi akan terhina dengan azab siksa yang pedih.

Allah SWT hantar tentera-tenteraNya dalam berbagai bentuk. Kaum Nabi Nuh a.s. binasa dilanda ribut taufan dan banjir besar. Semua yang derhaka, termasuk anak dan isterinya, serta binatang yang tidak dapat diselamatkan habis mati. Sebelum kejadian banjir besar itu, Nabi Nuh telah memberi peringatan kepada mereka supaya mentaati Allah dan kembali kepada kebenaran, namun mereka tetap dengan pegangan yang sesat itu (menyembah berhala), malah mengajak orang lain turut sama. Oleh karena kengeyelanan mereka, Nabi Nuh terpaksa berdoa kepada Allah untuk membinasakan umatnya yang ingkar itu. Firman Allah SWT: “Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, janganlah engkau biarkan seorangpun di antara orangorang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, nescaya mereka akan menyesatkan hambahambaMu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Surah Nuh: 26-27)

Itulah sebahagian daripada kebinasaan yang menimpa umat dahulu. Kini kemungkaran bermaharajalela di dalam masyarakat kita. Insaf dan bertaubatlah sebelum tiba ketentuan dari Allah.

Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “…Bila satu kaum melakukan penzinaan secara terang-terangan, mereka akan diserang oleh penyakit yang belum pernah dialami oleh nenek moyang mereka. Bila mereka mengurangi timbangan (menipu dalam perniagaan) mereka akan dihukum dengan kepapaan dan kemiskinan serta kezaliman pihak atasan. Bila mereka enggan membayar zakat, mereka akan terhalang oleh hujan dari langit, dan kalau tidak karena adanya hewan dan binatang ternak, tidaklah akan diturunkan hujan. Bila mereka melanggar janji Allah dan RasulNya, maka mereka akan dijajah oleh musuh dari bangsa lain yang akan merampas sebahagian dari harta mereka…” (Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi).

2 Responses to Siapakah Yang Layak Mendapat Bantuan Dari Tuhan?

  1. aboutmiracle says:

    assalamualaikum…
    salam perkenalan pada duniawali, sebuah khazanah yang sudah mulai hilang dari umat Islam. Rahasia duniawali adalah rahasia orang2 bertaqwa, rahasia kejayaan dunia akhirat.
    Saya senang sekali baca kisah2 wali ini. Ditunggu kisah selanjutnya ya….🙂

  2. duniawali says:

    waalaikum salam
    iya, moga2 blog ini dapat mengembalikan kefahaman islam dan dapat menyokong kebangkitan islam ke dua kalinya di timur.
    di tunggu juga masukkannya..
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: